Senin, 14 Desember 2009

Siapa Yang Mendidik Anak Ini?

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.
"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak,... Ibu." Halus budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil.. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu.. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

"Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya. .

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.


"Kenapa Bang, mau beli kue ya?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu.. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak
mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua ?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.


"Rp 25.000,- saja Bang...." Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-.
Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.. ......


(dari milist)


Selasa, 24 Februari 2009

Implementasi ISO 9001:2000, jalan terusss !



Niat yang baik tidak selalu diikuti dengan langkah yang baik ?!

Terkadang saya yo bingung kok, ini yang mau siapa ? Bilangnya commit, nyatanya ada perilaku yang mengesankan tidak commit. Tapi kalau dibilang tidak commit, ya ndak mungkin juga wong nyatanya ya commit tuh?! Setelah merenung terlalu lama, maka aku simpulkan bahwa ternyata ada masalah yang mendasar yang belum terselesaikan, yaitu "kebiasaan". Teman-temanku yang punya jabatan tertinggi sekalipun masih terbiasa disuruh, takut tidak berkenan, dan akhirnya selalu manut yang ekspresinya adalah selalu manggut-manggut. Sedangkan dengan manajemen yang baru diterapkan ini, butuh orang yang mampu mandiri, self motivation, inisiatif dan semangat melayani ( servant ). Karena terbiasa diperlakukan disuruh-suruh, maka semangat menyuruh-nyuruh ya diwariskan ke bawahannya, terus menerus akhirnya tidak ada satupun yang bergerak atau pergerakkannya malah salah. Mentalitas "babu", mungkin terlalu kasar untuk dianalogikan tetapi menurut saya, yang tepat ya itu....."babu".

Kita harus berbenah, sadar, bangkit jadi pribadi yang bermental enterpreneur. Lah tapi enak juga kok manut, sebab beban tanggung jawabnya tidak di pundak ini, tapi di pundak bossnya. Wah bener juga ?!

Terus piye jal ? Ya perlahan tetapi fokus pada tujuan, hindari halangan tapi kalau mampu "singkirkan" penghalang. Ayo teman-teman yang punya visi sama untuk "bertanggung jawab" terhadap eksistensi Universitas Dian Nuswantoro, tetap maju, fokus jangan pernah menyerah, karena anda memang orang-orang hebat yang sedang dibutuhkan untuk mendorong organisasi ini terbang semaikn tinggi.

God bless u.

Senin, 04 Agustus 2008

Yang penting memang "action"





Bicara mutu menurutku kegiatan tidak bermutu. Lebih baik langsung tetapkan standard, implementasi, monitoring dan evaluasi terus menerus. Maka, inilah aktifitas pertama untuk memperbaiki kwalitas manajemen di kampusku, proses yang berkesinambungan harus tetap dijaga disamping terus menumbuhkan komitmen untuk mau berubah semakin baik dari seluruh insan yang ada dalam komunitas itu. Jangan ngomong, just do it.

Ini adalah suasana saat briefing awal implementasi standar pengarsipan untuk menuju tercapainya standar ISO 9001 : 2000. Semangat terus, jangan ragu untuk terus berubah menjadi lebih baik, abaikan pendapat yang negatif. Ingat, jika anda tidak bisa berubah menjadi lebih baik maka andalah yang akan diubah ( diganti ). Setuju to friend ?

Rabu, 21 Mei 2008

Seminar "Online Transaction With PayPal"




Tanggal 14 Mei 2008 yang lalu, hari Rabu, saya diundang sebagai nara sumber dalam seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan AKuntansi Fakultas Ekonomi Undip dengan topik "Online Transaction with PayPal".
Saya sempat mempertanyakan kepada panitia apakah seminar ini didanai oleh PayPal ? Jawabnya tidak, yang membiayai malahan BNI46. Panitia sempat balik bertanya mengapa saya menanyakan hal itu, karena di benak saya PayPal hanyalah salah satu merchant yang menangani transaksi online (via internet) dengan kartu kredit. Memang PayPal adalah yang terbesar dan terkenal diantara merchant yang lain. Inilah wujud kekuatan sebuah brand (merek). Di Semarang orang terbiasa menyebut "Daihatsu" untuk angkutan kotanya, padahal tidak semua angkot menggunakan merek Daihatsu.
Pandangan dari sisi akuntansi dibahas oleh Pak Totok, selaku dosen di Jurusan tersebut. Dan ternyata memang ada jalur-jalur yang terputus pada transaksi online jika dilihat dari sisi akuntansinya. Sebenarnya tidak terputus sama sekali tetapi istilahnya yang berbeda.

Senin, 12 Mei 2008

sebuah renungan


Sukses & arogansi

oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency

Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, "Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail." (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).

Pembaca, itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.

Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat 'merakyat' hidupnya. Akan tetapi, itu dulu. Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, "Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda."

Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para 'yes man' yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin 'megalomania', pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.

Saya teringat dengan seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya.

Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. "Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa," katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para 'penjilat' yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training.

Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani kursus panjang di Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer yang begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum. Buku-buku best seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi membuatnya 'dibuang' dari komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer menyalahkan para rekannya. Dia pun dikelilingi oleh mereka yang selalu berkata 'ya' padanya.

Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka.

Terjebak retorika

Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri sudah selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi, dan berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar, kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus mengembangkan kesuksesannya. Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka dan kehancuran.

Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi? Saya menyebut tip ini dengan kata AWAS! Pertama, Aware (sadar) dengan sikap dan tingkah laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita perlu memberi waktu untuk menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang lain. Selalulah sadar apakah nada dan ucapan serta tindak tanduk kita sekarang semakin membuat banyak orang lain terluka? Apakah kita masih tetap menghargai orang lain? Apalagi orang-orang yang telah turut membawa Anda ke level sukses sekarang, apakah Anda hargai? Jangan sampai, tatkala masih bersusah payah, kita begitu respek, tetapi setelah sukses justru mencampakkan mereka.

Kedua, Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat kita belajar lagi. Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya mengatakan hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik. Kadang, masukan negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa pun kita.

Ketiga, Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar.

Keempat, Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain. Ada banyak artis yang ketika belum terkenal sikapnya ramah dan baik. Namun, setelah sukses, ia menjadi sangat sombong, angkuh, ketus, dan bersikap antisosial.

Nah pembaca, semoga tulisan ini menginspirasi Anda untuk meraih sukses sejati. Kesuksesan yang membuat Anda tidak arogan. Baiknya kita tutup tulisan ini dengan kalimat kuno yang seringkali sudah kita dengar. Saya hanya mengingatkan kita sekali lagi, "Di atas langit masih ada langit yang lain".


Jumat, 02 Mei 2008

Komunitas Dosen Katolik Semarang




Tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan nasional dan pada tanggal itu pula, tepatnya 2 mei 2008 dosen-dosen katolik yang berdinas di perguruan tinggi non katolik berkumpul di Universitas Dian Nuswantoro untuk mengikrarkan sebuah wadah yang "sepertinya" disepakati bernama "Paguyuban Dosen Katolik Santo Albertus Magnus". Mengapa kata sepertinya menjadi penting ? Karena mayoritas hadirin ternyata tidak antusias berbicara tentang nama melainkan lebih tertarik kepada aksi yang harus dilakukan dalam waktu dekat. Sehingga masalah nama dan bentuk gerombolan ini sepakat untuk dibiarkan mengambang.
Oleh sebab itu dalam diskusi yang semula kikuk namun kemudian mengalir semakin hangat dibicarakan perlunya pertemuan seperti ini dilanjutkan dan untuk memperat jejaring maka beberapa nama dimunculkan sebagai koordinator dari perguruan tinggi. Sebagai langkah awal maka data peserta yang berisi nama, alamat rumah , nomor telpon yang bisa dihubungi dan perguruan tinggi tempat mengajar akan segera dibagikan dan jika ada adalah alamat e-mail. Saking antusiasnya bahkan lalau disepakati secara bulat untuk mengadakan pertemuan lagi tanggal 6 juni 2008 ( tanggal lahirnya Bung Karno ) dalam bentuk misa dan sarasehan. Beberapa mengusulkan tempatnya tetap di UDiNus namun menurut saya biarkan mengalir dulu, barangkali ada perguruan tinggi lain yang berkenan.
Lalu siapa koordinator perkumpulan ini ? Ini adalah poin target yang meleset juga, agaknya peserta tidak juga menghiraukan perlunya koordinator namun lebih penting terselenggaranya pertemua dan jika perlu buat lagi panitia ad-hoc seperti saat ini yang saya ketuai.
Yah sebagai yang pertama hasilnya tetap luar biasa, meskipun sasran yang diharapkan belum tercapai tetapi justru memunculkan spirit, antusiasme yang diluar dugaan, ini yang lebih penting. Dari peserta yang hadir tampak orang-orang yang layak disebut "tokoh" di dunia perguruan tinggi jawa tengah khususnya seperti Prof. Ruwanto, Prof. Juliati, Prof. Agusty, Prof. FX. Sugianto. Dilihat dari Perguruan tinggi yang diwakili ada Undip, Udinus, Unnes, Unisbank, IKIP PGRI, PIP, Poltekes, Stiepari, Stifar, Untag, USM.
Terimakasih untuk Udinus yang berkenan meminjamkan aulanya, terimakasih pada bu Anni yang ngurusi konsumsi, terimakasih pada pak Tjahyono dan PKKMK-nya yang mempunyai semangat pelayanan yang luar biasa. Terimakasih untuk Romo Sapta Margana atas kepercayaannya, Terimakasih untuk romo Pujasumarta atas pencerahannya, semoga semakin menguatkan iman, harapan dan karya kita.

Selasa, 15 April 2008

Perubahan kurikulum harus dimulai dari mindset dosennya

Hari ini, Selasa, 15 April 2008 kembali seorang dosen ITB diundang ke kampus untuk sharing matakuliah. Kali ini yang hadir adalah pak Reinaldi Munir, dosen algoritma dan penulis buku-buku tentang matematika komputasi.
Hasilnya adalah keterperangahan karena konsep yang sangat berbeda dalam pembelajarannya. Dulu pertemuan serupa pernah dilakukan dengan ibu Inge juga dari ITB untuk mata kuliah algoritma dan pemrograman, bahkan sampai dua kali. Tetapi meskipun sudah dua kali dihadirkan toh titik temu memang tidak pernah ditemukan, namun garis singgung bisa diperoleh. Nah, bagaimana sikap yang harus diambil untuk kampusku ? Kata Ibu Inge saat itu adalah "be your self". Apakah kemudian penterjemahan dari kalimat itu adalah "ya sudah, kita jalan sendiri-sendiri, kamu Udinus aku ITB". Lalu apa dampak twining program kalau demikian ?
Menurut saya, Udinus khususnya Fasilkom harus mau berubah. Bukan sekedar mengubah judul mata kuliah dan urutannya tetapi yang justru lebih penting adalah substansi dan metode pembelajarannya. Mulai dari dari diri dosennya, spirit, motif dan perilakunya. Dari pak Reinaldi terungkap "bagaimana seorang dosen butuh waktu banyak untuk membuat rumusan tugas bagi mahasiswanya". Ya, kalau kita mau berubah, seperti pada film Power Ranger, maka berubahlah kita.